Sepanjang dasawarsa terakhir abad ke-20, jumlah kasus baru tuberkulosis (TB) meningkat di seluruh dunia, 95% kasus terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, TB juga masih merupakan masalah yang menonjol. Bahkan secara global, Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai penyumbang kasus terbanyak di dunia.1
![]() |
| Skematis Paru=paru |
Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P3M) di Puskesmas Rangkasbitung sudah dimulai sejak tahun 1979, termasuk didalamnya penanggulangan TB. Berdasarkan data, pada tahun 2008, dari jumlah suspek sebanyak 660 orang, jumlah penderita TB yang terjaring adalah 94 orang, termasuk didalamnya kasus TB anak 11 orang, tahun 2009 dari suspek sebanyak 438 orang terjaring 68 penderita termasuk didalamnya kasus TB anak 9 orang, dan tahun 2010 dengan suspek 530 terjaring 70 orang termasuk didalamnya kasus TB anak 5 orang.
Melihat data yang masih naik turun ini, diperlukan penjaringan yang lebih baik lagi dalam diagnosis TB, terutama pada TB anak, sebab TB pada anak manifestasinya agak berbeda dengan TB dewasa dan pemeriksaannya pun berbeda. Selain itu, deteksi dini TB anak sangat bermanfaat untuk mencegah perburukan keadaan anak, karena daya tahan anak yang belum kuat sehingga TB lebih mudah berkomplikasi dan dapat mengganggu masa pertumbuhan dan perkembangannya. Selain itu, diperlukan pemutusan mata rantai penularan TB pada anak dengan melakukan skrining terhadap anggota keluarga agar tidak terjadi infeksi berulang dan penatalaksanaan dapat tuntas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar